Minggu, 14 Agustus 2016

MENCARI JEJAK HINDU DI PEDALAMAN SERAM





Pada pertengahan Juni 2014 penulis dan beberapa kawan berkesempatan untuk berkunjung di Pulau Seram tepatnya di perkampungan suku Naulu yang merupakan salah satu suku yang mendiami pulau tersebut. Pulau Seram adalah pulau yang terbesar di Provinsi Maluku dengan luas wilayah yang sebagian besar hutan dan pegunungan, pulau ini juga didiami oleh beberapa suku lokal yang diantaranya suku Naulu, Waulu dan Suku Batik. Kami sengaja datang ke komunitas suku Naulu karena menurut informasi dari beberapa sumber dan cerita lisan dari mulut ke mulut bahwasanya Suku Naulu masih beragama Hindu dan memegang teguh ritual adat yang kental. Setelah mengumpulkan beberapa referensi baik dari media Internet maupun kawan-kawan yang berdomisili di beberapa kota di wilayah Seram kami memutuskan  untuk beranjangsana kepada saudara-saudara etnis Naulu di daerah Negeri Nua Nea yang jaraknya kurang lebih sekitar sembilan kilometer dari pusat kota Masohi ibukota Kabupaten Maluku Tengah dan kemudian masuk ke arah hutan sekitar lima kilometer. Awalnya kami berpikir akan sulit untuk berkomunikasi dengan saudara dari Naulu karena melihat rumah-rumah adat mereka yang masih alami dari kayu, bambu dan atap daun rumbia, tentunya dalam benak kami mereka tidak fasih berbahasa Indonesia, namun semua itu terbantahkan setelah bertemu dengan tokoh adat yang juga adik ipar Bapa Raja (Kepala Suku) yaitu bapak Saka Sonawe yang bersedia berbagi informasi sedikit tentang kehidupan etnis Naulu.
Menurut penuturan narasumber bahwa suku Naulu mempunyai ciri khas dengan ikat kain merah di kepala bagi laki-laki yang sudah menginjak dewasa, ikat kain tersebut wajib dipakai setiap hari dan selama mata masih terbuka kecuali saat tidur, kain merah adalah simbol kedewasaan dan tanggung jawab sebagai lelaki. Lelaki Naulu tak boleh menikah sebelum melakukan upacara pake kain merah karena itu adalah syarat utamanya, jika ada yang melanggar maka adat akan memberikan sanksi yaitu membayar piring tua kepada si pelanggar dan yang paling maksimal dikeluarkan dari silsilah Naulu. Piring Tua adalah sebutan untuk hukuman yang susah untuk di terima, menurut narasumber orang yang kena sanksi membayar piring tua mustahil bisa memenuhi hukuman tersebut karena jaman sekarang sulit mencari peninggalan piring tua di suku Naulu. Sebagian besar suku Naulu juga masih mengaku beragama Hindu, mereka menolak jika ada beberapa misionaris dari agama tertentu yang mengajak untuk bergabung dan yang paling ekstrim adalah jika ada anggota keluarga yang keluar dari Hindu maka tak segan-segan untuk dikeluarkan dari adat Naulu yaitu namanya tidak tercatat dalam silsilah Naulu, namun meskipun dikeluarkan dari adat dan silsilah warga Naulu tetap menjaga rasa persaudaraan tidak putus karena bagaimanapun juga itu bagian dari gandong (saudara kandung) mereka. Etnis Naulu yang beragama Hindu di Negeri Nua Nea kurang lebih 150 kepala keluarga itupun yang tercatat dan yang mempunyai KTP (kartu Tanda Penduduk) belum lagi yang masih berada dalam hutan-hutan belum terdeteksi petugas catatan sipil karena faktor transportasi dan geografis ataupun sabotase data. Dalam kehidupan kesehariannya  peribadatan Naulu tidak mengenal hari raya maupun hari suci meskipun mereka punya sebutan Tuhan menurut bahasa daerahnya yaitu Natanaka , karena tidak ada hitungan khusus baik kalender maupun kitab adat, ibadah dilakukan secara sederhana, sendiri-sendiri dari setiap rumah dan tidak tentu waktunya misalnya saat akan mengadakan upacara adat, berangkat berburu dan  berkumpul keluarga. mata pencaharian etnis Naulu di Negeri Nua Nea adalah berkebun cokelat dan tanaman berumur pendek (jagung dsb) dan untuk menunggu musim panen laki-laki dewasa mengisi waktu luang dengan berburu babi maupun binatang lainnya di hutan selama berhari-hari dengan senjata tombak, parang dan panah, penduduk Naulu lebih suka berburu di hutan daripada memelihara binatang ternak di pemukiman karena lebih efektif dan tentunya menantang.

Minggu, 10 Juli 2016

SEKILAS TENTANG HINDU....AGAMA SESAT DAN TIDAK JELAS (?!)

SEKILAS TENTANG HINDU....AGAMA SESAT DAN TIDAK JELAS (?!)


Banyak orang alergi, marah guling-guling atau bahkan langsung terkapar pingsan dikala mendengar atau membaca kata sesat, terlebih kalau bersinggungan dengan agama. Kenapa ? Semua agama pada dasarnya adalah sesat kalau dilihat dari sudut arah yang berbeda.

“Hindu agama sesat”, entah sudah berapa ratusan kali kata tersebut nongol di daftar kata kunci (kata yang paling banyak dipakai untuk masuk) ke blog abal-abal. Saya sih senyum-senyum saja membacanya. Sayang, artikel yang dicarinya tidak ada disini. Namun selang beberapa hari, kata kunci tersebut muncul kembali. Nah, daripada pembaca kecewa atau membaca dari sumber yang tidak jelas, dari penulis yang tidak paham tentang Hindu, mengapa tidak saya sendiri yang menuliskannya?

Tentu saja, tulisan ini akan membuat sekelompok orang pingsan atau marah guling-guling. Ya biarin saja. Emang kenapa kalau disebut sesat? Artikel ini target pembacanya adalah untuk mereka yang mau berpikir, bukan untuk orang fanatik. Artikel ini ditujukan untuk mereka yang memiliki pandangan luas, tidak terpaku pada judul atau dogma agama. Baik, agar tidak panjang, kita langsung ke pembahasannya.

Apa itu Hindu? Tidak jelas

Apa itu Hindu? Sepertinya banyak orang yang tidak tahu bahkan mungkin juga oleh orang Hindu sendiri. Apakah ritual di Bali adalah Hindu? Apakah pura adalah tempat ibadah orang Hindu? Apakah Om Swastiastu dan Om Santi 3x adalah salam Hindu? Atau pertanyaan yang lebih gampang, apakah Nyepi adalah hari raya agama Hindu? Secara umum jawabannya adalah tidak. Semua itu lebih tepat disebut Hindu ala Bali alias hanya ada di Bali saja. Jadi apakah Hindu yang benar atau asli adalah Hindu di India? Ndak juga ……

Hindu sebetulnya adalah agama yang tidak pernah ada. Kata Hindu awalnya dipakai bukan dalam kontek agama tapi sebutan untuk penduduk yang menempati wilayah sekitar sungai Indus. Pada masa penjajahan Islam di India. kata Hindu dipakai untuk membedakan dengan penduduk Muslim. Pemeluk Buddha, Shikh dan Jains juga awalnya digolongkan sebagai Hindu. Kemudian baru pada masa penjajahan Inggris, kata Hindu dipakai secara resmi dalam konteks religius yaitu untuk menyebut ribuan agama yang ada di India. Adapun agama-agama tersebut adalah agama Shiwa (Shivaisme) agama Wisnu (Vaishnawa) agama Brahma (Brahmaisme), Shaktiisem dll.

Di Indonesia, kata Hindu juga belum dikenal pada masa kerajaan Majapahit yang ada adalah kata Siwa-Buddha. Jadi agama yang berkembang pada masa itu adalah agama Siwa dan sebagian besar candi-candi Hindu pada masa itu adalah merupakan candi Siwa.

Jadi apa itu agama Hindu? Ya tidak ada. Jadi tudingan “Hindu sesat”, seharusnya ditanggapi dengan santai karena istilah agama Hindu dari awal sudah sesat alias tidak ada. Bagi sebagain orang Hindu yang lebih terpelajar, sepertinya lebih suka menggunakan kata Sanatha Dharma. Bingung? Ya, semoga semakin bingung….

Apa nama Tuhan dalam agama Hindu? Tidak jelas !

Hindu tidak mengenal sebutan baku untuk nama Tuhan. Sebagian orang menyebut nama Paremeswara, Paramatman, Siwa, Vishnu, Brahma, Brahman, Krishna, Narayana dan jutaan nama lainnya. Di Bali yang merupakan barometer atau acuan Hindu di Indonesia menggunakan kata Sang Hyang Widhi untuk nama Tuhan. Nama lainnya yang juga umum dipakai adalah Sang Hyang Tunggal, Kata ini diambil dari bahasa lokal jadi tidak akan ditemukan pada Hindu di negeri lain. Jadi apa nama Tuhan dalam agama Hindu ya tidak jelas

Monotheisme, Polytheimse atau Atheisme? Tidak jelas !

Hinduisme selama ini dikenal sebagai agama polytheisme, menyembah banyak Tuhan.Tapi ada juga yang menyebut agama monotheisme. Apapun jawabannya adalah benar ataupun keduanya salah. Nah, pasti bingung bukan?

Seperti sudah ditulis di atas bahwa Hinduimse adalah kumpulan beragam agama dan kepercayaan yang ada di lembah sungai Indus, jadi wajar kalau konsep Tuhan pada Hinduisme sangat banyak, beragamnya, unik atau aneh. Ada sekte yang mamuat ajaran dengan konsep ketuhanan yang monotheisme absulut alias hanya memperpacayai satu Tuhan ala Yahudi. Ada sekte yang mengajarkan tuhan dengan konsep Avatar, yaitu tuhan yang turun kedunia mengambil wujud manusia, jadi mirip ajaran Kristen. Ada sekte yang mengajarkan banyak Tuhan atau dewa.

Hindu memiliki konsep Tuhan yang beragam, monotheism, polytheism, panentheism,pantheism, pandeism, monism, dan bahkan juga atheism.-pun ada. [sumber] Jadi konsep Tuhan ala Hindu adalah komplek tergantung tiap orang, tradisi atau filosfi yang diikuti. Jadi Hindu adalah agama yang paling ramai dan memiliki konsep ketuhanan yang “paling lengkap”. Jadi tinggal pilih, konsep mana yang para umatnya anggap bagus dan disukai. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatan, tiap orang bahkan bebas menciptakan Tuhannya sendiri.

Sekilas mungkin membingungkan bagi orang yang terbiasa dengan konsep serba tunggal. Namun menurut saya, yang paling menarik adalah masing-masing sekte bisa hidup dengan (relatif) rukun tanpa saling “mengkafirkan”. Mengapa? Jawabannya sepertinya terletak pada salah satu ayat sebagai pemersatu :

Hanya ada satu Tuhan tetapi para orang bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama. (Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti) Rg Weda (Buku I, Gita CLXIV, Bait 46)

Memuja batu mungkin ajaran yang aneh dan dilarang bagi agama tertentu. Tapi di agama Hindu, tidak ada ajaran yang tegas untuk melarang ataupun sebaliknya, dengan tegas menganjurkan atau mengharuskan. Semuanya sah-sah saja. Memuja batu ataupun mencium batu hanyalah sarana ritual saja. Zaman sekarang, mana ada orang sinting yang menganggap batu sebagai Tuhan?

Bagaimana cara sembahyang agama Hindu? Tidak jelas

Hinduisme sama sekali tidak memiliki aturan baku dalam cara sembahyang. Mengapa? Jawabannya ada di ayat berikut yang dijadikan pedoman bagi penganut Hindu. Ayat-ayal lain yang sejenis sangat banyak.

Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Semuanya Aku terima. Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan. (Bhagawadgita, 4:11)

Menurut ajaran Hindu, sembahyang tidaklah mutlak harus dilakukan, apalagi dengan tata cara segala. Untuk mendekatkan diri atau mencari Tuhan bisa dilakukan dengan banyak jalan atau dikenal dengan ajaran Catur Marga yaitu dengan jalan sembahyang / bhakti (Bhakti Marga), dengan jalan bekerja (Karma Marga), dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan (Jnana Marga) dan dengan jalan meditasi (Yoga Marga). Jadi bagaimana tata cara sembahyang pada agama Hindu? Ya tidak jelas.

Apa kitab suci agama Hindu? Tidak jelas

Kebanyakan orang tentu akan menyebut Weda atau Veda. Tidak salah tentu saja. Tapi kenyataan yang ada di masyarakat pemeluk Hindu, kitab ini malah “tidak populer”. Kebanyak orang malah lebih akrab dengan Bhagavad Gita, Bhagavatam atau kitab Sarasamuscaya yang berbahasa Jawa. Sah sah saja karena semua kitab ini dianggap sebagai intisari dari kitab Weda.

Setahu saya, kebanyakan orang Hindu tidak memiliki kitab apapun di rumahnya. Boro-boro baca Weda, melihat ujud kitabnya saja mungkin tidak pernah. Mereka mungkin lebih akrab dan menimati cerita wayang seperti Mahabrata dan Ramayana. Nah, ini juga merupakan “bagian lain” dari Weda.

Makan daging sapi atau tidak? Tidak jelas

Secara umum penganut Hindu memuliakan sapi. Bahasa lain yang lebih kasar adalah menyembahnya. Sapi telah memberikan susu pada anak-anak jadi statusnya setara dengan seorang ibu.. Sapi juga adalah partner bagi petani, jadi membunuh dan memakan hewan yang telah memberikan jasa adalah perbuatan tidak baik. Jadi apakah apakah orang Hindu tidak makan daging sapi? Hmmmm…….

Di Bali sendiri daging sapi dijual bebas bahkan dalam upacara tertentu, sapi dikorbankan sebagai persembahan.

Himsa atau Ahimsa, Vegetarian atau Carnivora? Tidak jelas

Hindu mengajarakan tentang AHIMSA artinya tidak menyakiti mahluk lain. Bagi sekte tertentu ahimsa dijadikan salah satu dasar untuk pola hidup vegetarian. Mereka berpantang makan daging atau bahkan telor sekalipun. Jadi orang Hindu tidak boleh makan daging? Tidak juga. Tidak ada aturan atau larangan yang tegas melarang apalagi menganjurkan.

Hindu di Bali memiliki upacara pengorbanan binatang. Jadi binatang dipotong sebagai persembahan, tidak terkecuali juga sapi. Ritual ini tentu saja aneh dan juga membingungkan karena kalau dilihat dari sejarahnya, umat Hindu di Bali adalah aliran Siwa Sidanta atau penganut Siwa dengan sapi sebagai kendaraanya. Aneh bukan?

Hindu di Nepal juga memiliki upacara pengorbanan binatang bahkan jauh lebih “sadis”. Puluhan ribu sapi dibunuh sebagai persembahan. Walaupun dagingnya kemudian disantap atau dibagikan tapi tetap saja aneh, karena untuk sekte Hindu lainnya, terlebih untuk sekte Vaishnava, membunuh hewan adalah dilarang.

Apa nama nabi pada agama Hindu? Tidak jelas

Hindu tidak mengenal nabi yang bersifat absulut, tunggal dan mendominasi ayat kitab suci. Katanya, wahyu diturunkan secara bergelombang pada banyak orang dan diturunkan dalam kurun waktu yang berbeda.

Sistem Kasta? Tidak jelas

Menurut teori ala kitab Veda, kasta hanyalah penamaan saja, bukan gelar, tidak menunjukkan derajat dan juga tidak diwariskan. Namun kenyataan di lapangan sangat berbeda. Kasta adalah gelar dan diwariskan turun temurun. Pendeta adalah jabatan ekslusif untuk Kasta Brahmana dan keturunannya. Seseorang yang baru memeluk agama Hindu hanya berhak mendapat jatah Sudra dan berlaku sampai kiamat. Aturan ini nyaris sudah baku, berlaku umum dan tidak bisa diganggu gugat. Perkecualian hanya berlaku untuk beberapa sekte Hindu tertentu saja. Mereka tidak menerapkan kasta pada komunitasnya dan jabatan pendeta ditentukan oleh kualitas bukan keturunan. ….. dst….dst ….

Contoh “tidak jelas” lainnya masih banyak namun untuk menghindari agar tulisan tidak semakin panjang atau pembaca fanatik semakin terbakar maka tulisan dilanjutkan ke bagian berikutnya dibawah

BAGIAN SESAT

Marah tanpa ilmu adalah sesat

Banyak orang yang cendrung alergi mendengar kata sesat, agamanya disebut sesat. Kalau menurut saya pribadi, ya biasa-biasa saja karean pada dasarnya semua agama adalah sesat.

Hindu sesat bagi orang Kristen yang fanatik. Jadi apakah ini artinya agama Kristen adalah agama waras? Tentu saja tidak karena sesungguhnya agama Kristen adalah sesat dimata orang Yahudi fanatik. Jadi Yahudi adalah agama yang waras? Tentu tidak karena bagi penganut agama yang lain, baik Yahudi, Kristen, Hindu atau agama apapun, diluar agamanya sendiri adalah sesat. Sedangkan yang terakhir, bagi seorang atheis sejati, semua agama adalah sama saja, sama sesatnya. Jadi siapa yang sesat?

Beragama tidak akan pernah lepas dari tuduh-menuduh sesat. Walaupun semua orang memeluk satu agama yang sama sekalipun tuduhan sesat akan tetap muncul karena masih ada sekte atau aliran lain yang bisa dijadikan obyek tuduhan.

Agama atau tokoh agama yang tidak mampu mengajak umatnya untuk melakukan perbaikan prilaku, tidak mampu mampu menyelaraskan agama dengan perkembangan zaman namun hanya berkutat pada dogma dan ritual maka dipastikan akan tersesat.

Agama besar yang tidak mampu melindungi agama kecil adalah sesat

Banyak agama lokal yang sulit berkembang karena tidak mendapat pengakuan hukum dari pemerintah. Nah, dengan pendekatan yang baik dan manajemen yang lebih cerdas maka hendaknya kesulitan warga tersebut bisa difasilitasi dengan memberikan tempat bernaung yang lebih bebas dan mudah yaitu agama Hindu. Ini adalah salah satu dharma atau perbuatan baik. Selama mereka berjuang mengusung humanisme, welas asih dan memiliki kepercayaan terhada Tuhan YME maka sudah selayaknya disebut sebagai saudara sedharma. Jadi Hindu bukan melulu harus ritual dan hafal kitab tapi yang terpenting adalah prilaku, budi pekerti dan sifat welas asih kepada aam semesta beserta segala isinya

PENUTUP

Saya sengaja menggunakan judul yang bombastis karena tulisan ini selain dibaca oleh orang Hindu juga dibaca oleh rekan beragama lain, jadi saya harus menuliskannya dengan pendekatan yang berbeda. Coba kalau saya menulis dengan judul “Hindu agama waras, damai dan nomor 1” dijamin rekan yang beragama non Hindu akan muntah membacanya. Sedangkan orang yang malah bangga bangga, terlena dan kegirangan dengan puja-puji hanyalan sekumpulan anak kecil saja.. Itu namanya sudah tersesat.

Semoga segala pikiran baik datang kepada kita dari segala arah dan terpancar dari dalam diri kita ke segala penjuru arah..

Semoga damai di tiga dunia dan semesta.

@Copyright2016

Semoga semua mahkluk hidup berbahagia
OM SANTIH SANTIH SANTIH...OM

Jumat, 08 Juli 2016

TUMPEK LANDEP

TUMPEK LANDEP



Dalam Tumpek Landep, Landep yang diartikan tajam mempunyai filosofi yang berarti bahwa  Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Tumpek landep merupakan tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran – ajaran agama. Pada rerainan tumpek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur.

Jadi bisa disimpulkan menurut pendapat kami bahwa Pada Rahina Tumpek Landep hal yang paling utama yang tidak boleh dilupakan ialah hendaknya kita selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan kita dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan serta mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.

@Copyright2016

Senin, 04 Juli 2016

TOLERANSI HINDU SANGAT TINGGI

TOLERANSI HINDU SANGAT TINGGI



Keyakinan yang berbeda-beda muncul dari multi pemahaman dan kesadaran umat. Hindu yang berpedoman kepada Veda memahami kekuatan keberagaman ini, dengan sepenuh hati menghargai, menghormati dan menyemangati siapa saja yang percaya kepada Tuhan dan berupaya untuk menyadari-Nya. Hindu menghormati fakta bahwa Kebenaran itu satu, jalan untuk mencapainya (marga yoga) sangat banyak. Ketika pada intinya tujuan dari semua keyakinan adalah untuk menuntun manusia kembali manunggal dengan Tuhan, seorang umat dengan keyakinan dan pengamalan sadhana tertentu tidak bisa memaksakannya dan mencampuri umat lain yang memiliki keyakinan dan pengamalan sadhana yang berbeda darinya. Veda meyakinkan bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan, tidak ada jalan yang eksklusif, tidak ada satu jalan untuk semua.

Tuhan adalah maha esa; Tuhan yang sama ada pada semua orang dari semua keyakinan yang berbeda. Semua orang memperoleh kegembiraan hati, kedamaian dan pembebasan dari Tuhan yang sama. Kita menyadari bahwa semua agama tidak sama. Masing-masing memiliki keyakinan, pengamalan, tujuan dan jalan pencapaian yang unik, serta pemahaman yang satu dengan yang lainnya sering bertentangan. Seharusnya hal ini tidak pernah dijadikan sebab untuk bersitegang atau intoleransi antar umat yang meyakininya. Kita harus menghormati semua tradisi sebagai implementasi dari keyakinan-keyakinan dan orang-orang di dalamnya. Kita harus berkonsentrasi pada satu jalan yang telah kita pilih, dan tetap menghormati orang lain dengan jalan yang mereka pilih. Tanpa toleransi yang tinggi seseorang tidak akan pernah mencapai Yang Tertinggi.  Sri Ramakrishna Paramahamsa mengatakan, “Jika ada kesalahan-kesalahan dalam agama atau keyakinan yang lain, itu bukan urusan kita. Tuhan, pemilik dunia ini, mengurus itu.” Toleransi bukan berarti menerima semua keyakinan sebagai sebuah kebenaran, tapi menghormati perbedaan yang ada. Hindu yang telah melewati berbagai zaman tetap mempertahankan keyakinannya.

Umat Hindu berusaha membangun dan menjaga kerukunan dan menciptakan rasa persaudaran yang kuat di antara umat Hindu dan umat non-Hindu sebagai satu kesatuan hati. Dari rasa persaudaraan akan tercipta kebersamaan, dan dari kebersamaan akan tercipta kemakmuran dan perdamaian. Mahatma Gandhi mengatakan, “Toleransi dan kebenaran tidak dapat dipisahkan dan saling mempersyaratkan satu sama lain.”

@Copyright2016

Minggu, 03 Juli 2016

NANA PATEKAR AKTOR INDIA YANG MENYUMBANGKAN 90% KEUNTUNGAN DARI PENDAPATANNYA UNTUK ORANG BELUM BERUNTUNG

NANA PATEKAR AKTOR INDIA YANG MENYUMBANGKAN 90% KEUNTUNGAN DARI PENDAPATANNYA UNTUK ORANG BELUM BERUNTUNG


Nana adalah salah satu aktor India yang sangat diperhitungkan dijagad perfilman Bollywood. Terlahir dari keluarga yang sederhana di Negara  Bagian Maharasthra 65 Tahun silam dengab nama Visvanath Patekar beliau mulai memilih perjalanan hidupnya dibidang seni.

Memulai bekerja di perfilman membuat bakat seninya terasah dan dari seni teesebut jiwa soaialnya tumbuh. Nana menganggap bahwa bekerja dibidang seni bukan hanya untuk mencari uang saja namun selebihnya adalah menyalurkan hobi dan berbuat baik kepada orang lain.

Sudah bukan rahasia bahwa 90% keuntungan dari pendapatannya dibidang film ataupun endorse produk yang dia bintangi disumbangkan kepada beberapa keluarga miskin yang berada di India padahal beliau sendiri masih tinggal di disalah satu apartment di Mumba bersama keluarga dan orang tuanya sangat mulia bukan?

@Copyright2016


Jumat, 01 Juli 2016

Sarasvati dalam Rig Veda

Sarasvati dalam Rig Veda



Sarasvati bukan hanya sebuah Sungai yang mengalir sekitar 8000 tahun yang lalu. Ia adalah Devi yang mendorong kekuatan Inspirasi dan berurusan dengan kesadaran manusia. Untuk memahami makna dari Sarasvati saya telah menyusun beberapa mantra dari Rig Veda yang berurusan khusus dengan Sarasvati dan simbolisme yang terkait denganNya. Semoga tulisan singkat ini dapat membantu supaya lebih terbayang apa yang dimaksudkan dengan Sarasvati dan betapa pentingNya bagi kehidupan kita.

Sarasvati...

"mendorong kebenaran yang membahagiakan"

"membangkitkan pemikiran yang tepat"

"membuat (kita) sadar oleh kebangkitan dan dorongan yang konstan"

"kata yang memegang kebahagiaan tertinggi dan mengetahui substansinya"

"menyempurnakan pemahaman kita"

"membuat kita mampu mengekspresikan diri"

"memiliki kebenaran"

"semoga dia, pasangan kekuatan pemberani, menerangi pikiran kita"

"dengan kekuatannya dia mematahkan puncak gunung (kebodohan) seperti serat yang lemah"

"Sarasvati menghancurkan (dengan kekuatan inspirasi) yang menyensor para Deva dan para pencipta bentuk ilusi"

"Semoga penjaga dari pikiran melindungi kita"

"pembunuh dari kekuatan Vrtra (kekuatan yang menutupi kesadaran)"

"ia telah memperluaskan diri kita seperti Surya dengan hari"

"menjadi sepenuhnya sadar dengan pikiran"

"jangan membakar kita dengan pengetahuan"

"dia sendiri menjadi sadar".

@Copyright2016

PENJAGA KUIL HINDU DI BANGLADESH DIPENGGAL OLEH EKSTRIMIS ISLAM

PENJAGA KUIL HINDU DI BANGLADESH DIPENGGAL OLEH EKSTRIMIS ISLAM



Seorang pekerja kuil Hindu dibunuh tiga pria yang mengendarai sepeda motor, yang merupakan insiden kekerasan terbaru dari serangkaian serangan atas kelompok minoritas di Bangladesh.

Polisi mengatakan Shaymanonda Das sedang mempersiapkan doa pagi di sebuah kuil di daerah Jhenaidah, Bangladesh barat daya ketika dia diserang.

Dia dipenggal di leher beberapa kali dengan menggunakan parang dan para penyerangnya melarikan diri.

Lebih dari 40 orang terbunuh dalam serangkaian serangan yang dipandang dilakukan kelompok militan beraliran Islamis di Bangladesh sejak bulan Februari 2013.

Korban di antaranya adalah blogger, akademisi, pegiat hak homoseksual, maupun anggota kelompok minoritas.

Bagaimanapun polisi mengatakan motif dari serangan terbaru ini masih belum jelas.

Komandan polisi setempat, Hasan Hafizur Rahman, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa 'pola pembunuhan mirip' dengan yang dilakukan kelompok militan Islamis dalam serangan-serangan sebelumnya.

Bulan lalu, seorang pendera Hindu berusia 70 tahun dipenggal di sawah pada desa yang sama.